Judul:
Paradigma Baru Konservasi Lingkungan Lintas Negara: Inovasi Kebijakan di Perbatasan Indonesia–Malaysia
Penulis:
-
Dr. Kiki Endah, S.Sos., M.Si., CLOT.
-
Dr. Irfan Nursetiawan, S.Pd., M.Pd., M.Si., CLOT.
-
Ahmad Uliarso, S.IP., M.Si.
Editor:
Yusuf Hidayat, M.Pd., M.Si., CMA.
Penerbit:
Diva Pustaka
Sinopsis:
Buku “Paradigma Baru Konservasi Lingkungan Lintas Negara: Inovasi Kebijakan di Perbatasan Indonesia-Malaysia” merupakan karya ilmiah komprehensif yang
membedah dinamika manajemen lingkungan di salah satu kawasan paling biodiversitas di dunia. Di tengah arus globalisasi dan tekanan perubahan iklim, wilayah perbatasan antara Indonesia (Kalimantan) dan Malaysia (Sarawak dan Sabah) menghadapi tantangan ganda: menjaga kedaulatan teritorial sekaligus melindungi integritas ekologis yang bersifat transnasional. Buku ini menawarkan perspektif baru dalam melihat perbatasan bukan sebagai garis pemisah yang memutus relasi alam, melankan sebagai koridor kolaborasi ekosistem yang mampu menyatukan kepentingan dua negara dalam kerangka keberlanjutan.
Penulis mengawali pembahasan dengan melakukan dekonstruksi terhadap pemahaman konvensional mengenai konservasi yang seringkali bersifat state-centric dan eksklusif. Melalui tinjauan ontologis, buku ini memperkenalkan konsep Transboundary Conservation (TBC) sebagai sebuah kebutuhan mendesak di era Anthropocene. Dengan menggunakan teori ekologi politik dan diplomasi lingkungan, buku ini menjelaskan bagaimana isu-isu lingkungan dapat menjadi katalis bagi perdamaian (Peace Parks) dan kerja sama bilateral yang lebih erat.
Analisis dalam buku ini diperkuat dengan data biofisik dan sosio-ekonomi yang menunjukkan betapa tingginya ketergantungan masyarakat lokal terhadap sumber daya alam lintas batas, yang menuntut adanya kebijakan yang lebih inklusif dan sensitif terhadap hak-hak masyarakat adat.
Salah satu kontribusi utama buku ini adalah analisis mendalam terhadap inisiatif Heart of Borneo (HoB) dan bagaimana arsitektur kebijakan ASEAN berperan dalam penanganan polusi asap lintas batas serta perlindungan habitat satwa endemik seperti Orangutan dan Gajah Kalimantan. Penulis tidak hanya berhenti pada level teoretis, tetapi juga menawarkan solusi praktis melalui inovasi instrumen tata kelola, Pembahasan mengenai penggunaan teknologi satelit dan sensor berbasis loT (internet of Things) untuk pemantauan hutan secara real-time memberikan gambaran tentang bagaimana modernitas dapat mendukung upaya konservasi tradisional.
Namun, buku ini juga tetap bersikap kritis terhadap hambatan-hambatan nyata di lapangan.
Ego sektoral, disparitas regulasi antarnegara, serta desakan ekonomi dari ekspansi industri ekstraktif seperti kelapa sawit dildentifikasi sebagal tantangan utama yang harus dimitigasi.
Pada bagian akhir, buku ini merumuskan model masa depan konservasi yang berbasis pada masyarakat adat, dengan menekankan pada integrasi Traditional Ecological Knowledge (TEK) ke dalam kebijakan formal. Penulis merekomendasikan buku ini sebagai referensi wajib bagi para akademisi di bidang ilmu lingkungan, kebijakan publik, hubungan internasional, serta bagi para pratisi dan diplomat yang bergerak di bidang isu-isu lingkungan global.
Cetakan Pertama:
Maret 2026




