Judul: I Pattodo Daeng Matterru Karaeng Balocci: Takhta Yang Terenggut
Penulis: Andi Fahri Makkasau
Penerbit: Diva Pustaka
Sinopsis:
Balocci berdiri sebagai kekaraengan kecil yang tertata dan makmur. Di bawah kepemimpinan I Pattodo Daeng Materru, sawah diatur, hutan dijaga, dan Dewan Adat Seppulo Tellue memelihara keseimbangan antara kuasa dan tanggung jawab.
Namun kemakmuran itu menarik perhatian kekuasaan kolonial.
Ketika 40 pohon cendana ditebang tanpa izin di Tonasa, I Pattodo memilih jalur hukum dan memenangkan perkara.
Putusan itu memaksa pejabat kolonial membayar 1 ringgit perak untuk setiap pohon.
Tetapi kemenangan hukum justru melahirkan siasat yang sunyi.
Ia dipanggil ke Makassar, menerima surat yang tak boleh dibuka sebelum tiba di negerinya, dan dihadapkan pada ancaman pembumihangusan Balocci.
Surat itu berisi pemberhentiannya sebagai Regent van Balotji.
Di titik itulah sejarah berubah. Bukan melalui perang, melainkan melalui pilihan.
Saorajae dirubuhkan. Bendera Calla’ka dilipat. Kancing Gaukang dibisukan. Kalompoang diletakkan.
Takhta direnggut melalui pena dan stempel.
Namun Balocci tidak pernah terbakar.
Sebuah novel sejarah tentang benturan adat dan kolonialisme, tentang kepemimpinan yang memilih keselamatan negeri di atas kekuasaan, dan tentang martabat yang tetap berdiri meski takhta telah hilang.
Cetakan Pertama: Mei 2026




